News & Update

Home / News & Update / Standar ISO Berubah, SNI Ikut Menyesuaikan: Apa Dampaknya bagi Perusahaan?

Tahun

Bulan

Standar ISO Berubah, SNI Ikut Menyesuaikan: Apa Dampaknya bagi Perusahaan?
29 September 2026 ISO / Regulatory Update

Standar ISO Berubah, SNI Ikut Menyesuaikan: Apa Dampaknya bagi Perusahaan?

Perubahan standar internasional bukan hanya urusan lembaga standardisasi. Ketika standar ISO mengalami revisi, perubahan tersebut juga dapat menjadi pertimbangan dalam pengembangan dan penyesuaian Standar Nasional Indonesia (SNI). Hal ini kembali menjadi perhatian dalam kegiatan Badan Standardisasi Nasional (BSN) yang membahas bagaimana Indonesia perlu memperkuat respons terhadap perubahan standar ISO. Bagi perusahaan yang menggunakan SNI sebagai acuan produk, proses, maupun sistem manajemen, perkembangan seperti ini layak diperhatikan. Sebab, standar yang digunakan dalam kegiatan usaha bukan sesuatu yang selalu bersifat tetap.

BSN Perkuat Respons terhadap Perubahan Standar ISO

Dalam berita yang diterbitkan BSN, penguatan respons terhadap perubahan standar ISO menjadi bagian dari upaya memastikan pengembangan SNI tetap dapat mengikuti perkembangan standardisasi internasional.

Hal ini penting mengingat Indonesia merupakan bagian dari ekosistem standardisasi internasional dan terlibat dalam berbagai kegiatan pengembangan standar ISO.

Ketika standar internasional berkembang, Indonesia perlu memiliki mekanisme untuk memantau perubahan tersebut, memberikan masukan, dan menentukan bagaimana perkembangan standar tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam pengembangan SNI.

BSN sendiri memiliki peran dalam pengembangan SNI sekaligus pemenuhan kewajiban internasional di bidang pengembangan standar.

Kenapa Perubahan ISO Bisa Berkaitan dengan SNI?

Banyak orang masih menganggap ISO dan SNI sebagai dua hal yang sepenuhnya terpisah.

Padahal, dalam pengembangan standar nasional, terdapat SNI yang disusun dengan mengadopsi standar internasional, termasuk ISO.

Contohnya dapat dilihat dari berbagai SNI yang tercatat di katalog BSN.

Salah satunya adalah SNI 8843-1:2019 Konfirmasi 2026, yang merupakan standar revisi dari SNI ISO 19115:2012 dan disusun melalui jalur adopsi dari ISO 19115-1:2014 beserta amendemennya. BSN kemudian menetapkannya kembali pada 2026 setelah proses kaji ulang.

Contoh lainnya adalah SNI ISO 37109:2023, yang ditetapkan BSN pada 2025 melalui adopsi identik dari ISO 37109:2023.

Artinya, hubungan antara standar internasional dan standar nasional memang nyata.

Namun, ISO berubah bukan berarti semua SNI otomatis berubah pada saat yang sama.

Ada proses standardisasi yang perlu dilakukan sebelum suatu perubahan diterapkan menjadi SNI.

Tidak Semua Perubahan ISO Langsung Menjadi Perubahan SNI

Ini bagian yang sering disalahpahami.

Ketika sebuah standar ISO direvisi, perusahaan tidak otomatis harus mengganti seluruh standar yang sedang digunakan pada hari itu juga.

Ada proses yang perlu dilakukan untuk menentukan apakah standar internasional tersebut perlu diadopsi, dikaji, direvisi, dikonfirmasi, atau justru tidak digunakan sebagai dasar pengembangan SNI.

Dalam materi pengembangan SNI yang diterbitkan BSN, mekanisme adopsi standar internasional mempertimbangkan perkembangan status standar ISO, termasuk ketika standar ISO sedang berada dalam tahap revisi atau sudah diterbitkan versi barunya.

Karena itu, perubahan standar membutuhkan monitoring dan evaluasi, bukan sekadar mengikuti setiap standar baru secara otomatis.

Lalu, Apa Artinya bagi Pelaku Usaha?

Bagi perusahaan, hal yang paling penting bukan hanya mengetahui bahwa standar ISO sedang berubah.

Yang lebih penting adalah mengetahui:

“Apakah perubahan tersebut berkaitan dengan standar yang digunakan perusahaan?”

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan bagi perusahaan yang produknya menggunakan SNI sebagai acuan atau yang menerapkan standar ISO dalam sistem manajemen.

Misalnya, perusahaan menggunakan suatu standar untuk:

  • spesifikasi produk;
  • metode pengujian;
  • sistem manajemen mutu;
  • keselamatan dan kesehatan kerja;
  • manajemen lingkungan;
  • keamanan informasi;
  • atau kebutuhan teknis lainnya.

Jika standar yang menjadi acuan mengalami perubahan, perusahaan perlu mengetahui apakah perubahan tersebut berdampak terhadap proses yang sedang berjalan.

Standar ISO Bukan Sekadar Dokumen Teknis

Ada alasan mengapa perubahan standar perlu diperhatikan sejak awal.

Standar dapat menjadi bagian dari cara perusahaan menjalankan proses.

Ketika persyaratan berubah, dampaknya bisa saja menyentuh lebih dari satu bagian.

Misalnya:

Produk → spesifikasi → proses produksi → pengujian → dokumentasi → sertifikasi

Satu perubahan pada standar dapat membuat perusahaan perlu mengevaluasi kembali bagian tertentu dari rantai tersebut.

Karena itu, perusahaan yang hanya melihat standar ketika hendak melakukan sertifikasi berisiko terlambat mengetahui adanya perubahan yang relevan.

Apa yang Bisa Dilakukan Perusahaan?

Perusahaan tidak perlu panik setiap kali ada berita mengenai perubahan standar.

Yang diperlukan justru adalah sistem monitoring yang sederhana tetapi konsisten.

  1. Ketahui standar yang digunakan
    Buat daftar standar yang menjadi acuan perusahaan.
    Jangan hanya mencatat nomor standarnya, tetapi juga versi dan statusnya.

  2. Pantau perubahan standar
    Jika standar internasional yang menjadi acuan mengalami revisi, perusahaan dapat mulai melihat apakah perubahan tersebut berpotensi berhubungan dengan kegiatan usaha.

  3. Cek status SNI terkait
    Untuk perusahaan yang menggunakan SNI, jangan langsung berasumsi bahwa perubahan ISO otomatis mengubah SNI.
    Periksa status SNI yang relevan melalui sumber resmi BSN.
    Katalog BSN sendiri menunjukkan bahwa terdapat SNI yang diadopsi dari ISO dengan metode dan status yang berbeda-beda.

  4. Lakukan gap analysis jika memang diperlukan
    Jika terdapat perubahan yang relevan, perusahaan dapat membandingkan persyaratan lama dengan persyaratan baru.
    Dari sini perusahaan dapat mengetahui apakah perubahan hanya bersifat administratif atau membutuhkan penyesuaian pada proses bisnis.

  5. Jangan menunggu sampai masa sertifikasi habis
    Jika perusahaan sudah mengetahui adanya perubahan yang relevan, persiapan dapat dilakukan lebih awal.
    Dengan begitu, perusahaan tidak harus melakukan perubahan secara terburu-buru ketika audit atau proses sertifikasi sudah dekat.

Perubahan Standar Bisa Menjadi Sinyal, Bukan Sekadar Kewajiban

Ada satu hal menarik dari perkembangan ini.

Perubahan standar sebenarnya bisa menjadi early signal bagi perusahaan.

Standar biasanya berkembang karena kebutuhan industri juga berubah.

Teknologi berkembang. Cara produksi berubah. Risiko baru muncul. Ekspektasi konsumen meningkat. Regulasi berkembang.

Karena itu, ketika standar mulai berubah, perusahaan dapat menggunakannya sebagai kesempatan untuk bertanya:

“Apakah cara kami bekerja masih relevan?”

Bukan hanya:

“Apa dokumen yang harus kami ubah?”

Cara pandang ini membuat standardisasi tidak berhenti sebagai kewajiban administratif.

Hubungannya dengan ISO 9001:2026

Perkembangan ini juga menjadi semakin relevan dengan diterbitkannya ISO 9001:2026 pada 16 September 2026.

ISO menjelaskan bahwa edisi terbaru sistem manajemen mutu tersebut mempertahankan fondasi yang sudah ada, tetapi memberikan penekanan pada sejumlah area seperti leadership, quality culture, strategic alignment, serta risks and opportunities.

Di sisi lain, Indonesia juga perlu melihat perkembangan standar internasional tersebut dalam konteks standardisasi nasional.

Ini menunjukkan bahwa perubahan standar internasional dapat menjadi bagian dari perkembangan yang perlu terus dipantau oleh perusahaan di Indonesia.

Jadi, Haruskah Perusahaan Selalu Mengikuti Semua Perubahan ISO?

Tidak.

Perusahaan tidak perlu menerapkan semua standar ISO yang baru diterbitkan.

Yang perlu dilakukan adalah memahami standar mana yang relevan dengan kegiatan usaha dan persyaratan yang berlaku bagi perusahaan.

Jika standar tersebut menjadi acuan produk, sistem manajemen, pengujian, atau sertifikasi yang digunakan perusahaan, barulah perubahan standarnya menjadi penting untuk diperhatikan.

Dengan kata lain:

Bukan semua perubahan ISO yang harus diikuti. Tetapi perubahan yang relevan dengan bisnis tidak boleh terlewat.

Kesimpulan

Perubahan standar internasional merupakan bagian dari perkembangan standardisasi yang tidak bisa dilepaskan dari dunia usaha.

Melalui penguatan respons terhadap perubahan standar ISO, BSN berupaya memastikan proses pengembangan SNI tetap responsif terhadap perkembangan standardisasi internasional. Berita BSN: BSN Perkuat Respons Pengembangan SNI terhadap Perubahan Standar ISO

Bagi perusahaan, ini menjadi pengingat bahwa standar yang digunakan dalam bisnis perlu dipantau secara berkala.

SNI bisa berkembang. ISO bisa direvisi. Persyaratan teknis juga dapat berubah.

Perusahaan yang mengetahui perubahan lebih awal akan memiliki waktu lebih banyak untuk mengevaluasi proses, melakukan penyesuaian, dan mempersiapkan sertifikasi bila diperlukan.

Karena dalam standardisasi, bukan hanya kepatuhan yang penting. Mengetahui apa yang akan berubah juga merupakan bagian dari kesiapan bisnis.

 

Sumber

  1. Badan Standardisasi Nasional (BSN)
    BSN Perkuat Respons Pengembangan SNI terhadap Perubahan Standar ISO. https://bsn.go.id/main/berita/detail/27018/bsn-perkuat-respons-pengembangan-sni-terhadap-perubahan-standar-iso
  2. Badan Standardisasi Nasional (BSN)
    Katalog SNI dan contoh penerapan jalur adopsi standar ISO dalam pengembangan SNI. https://pesta.bsn.go.id/produk/detail/8843120192026-sni8843-1%3A2019konfirmasi2026
  3. International Organization for Standardization (ISO)
    Informasi resmi mengenai management system standards dan harmonized structure. https://www.iso.org/management-system-standards-list.html
  4. ISO 9001:2026
    Informasi resmi ISO mengenai perkembangan standar sistem manajemen mutu terbaru. https://www.iso.org/management-system-standards-list.html

Tags: SNI, Perubahan SNI,  Standar ISO,  Perubahan Standar ISO,  SNI Terbaru, Sertifikasi SNI, Sertifikasi ISO, Standardisasi Indonesia