News & Update

Home / News & Update / TKDN 2026: Apa yang Perlu Dipahami Perusahaan Manufaktur?

Tahun

Bulan

TKDN 2026: Apa yang Perlu Dipahami Perusahaan Manufaktur?
14 Agustus 2026 Industry Insight

TKDN 2026: Apa yang Perlu Dipahami Perusahaan Manufaktur?

Industri manufaktur Indonesia terus berkembang, dan penggunaan produk dalam negeri menjadi salah satu hal yang semakin diperhatikan. Bagi perusahaan manufaktur, salah satu hal yang perlu dipahami adalah Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). TKDN bukan hanya soal mengejar angka persentase. Ada proses produksi, penggunaan bahan, tenaga kerja, hingga dokumen perusahaan yang perlu disiapkan.

Apa Itu TKDN?

Secara sederhana, TKDN menunjukkan seberapa besar komponen dalam suatu barang, jasa, atau gabungan keduanya berasal dari dalam negeri.

 

Untuk produk manufaktur, perhitungannya dapat mencakup beberapa komponen, antara lain:

  • bahan atau material yang digunakan;
  • tenaga kerja langsung; dan
  • biaya tidak langsung pabrik (factory overhead).

 

Karena itu, perusahaan perlu memiliki data produksi dan biaya yang jelas sejak awal. Data yang tidak lengkap atau tidak konsisten dapat menyulitkan proses perhitungan dan verifikasi.

 


Ada Apa dengan TKDN di 2026?

Salah satu perubahan yang perlu diperhatikan perusahaan adalah berlakunya Permenperin No. 35 Tahun 2025 tentang Ketentuan dan Tata Cara Sertifikasi TKDN dan BMP sejak 11 Desember 2025.

 

Aturan ini menggantikan beberapa ketentuan sebelumnya mengenai sertifikasi TKDN dan Bobot Manfaat Perusahaan (BMP). Kementerian Perindustrian juga menyampaikan bahwa perubahan tersebut merupakan bagian dari upaya membuat proses TKDN lebih mudah, cepat, transparan, dan akuntabel.

 

Bagi perusahaan yang sudah pernah mengurus TKDN, ini menjadi alasan untuk mengecek kembali apakah prosedur dan dokumen yang digunakan masih sesuai dengan ketentuan terbaru.

 

 

Apa yang Perlu Disiapkan Perusahaan?

Ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan sebelum masuk ke proses sertifikasi.

1.     Kenali struktur produk

Perusahaan perlu mengetahui bahan, komponen, tenaga kerja, serta proses yang digunakan untuk menghasilkan produk.

2.     Rapikan dokumen

Dokumen pembelian, data produksi, tenaga kerja, dan biaya harus tersedia dan dapat menunjukkan kondisi perusahaan yang sebenarnya.

3.     Cek ketentuan sesuai sektor

Ketentuan TKDN tidak selalu sama untuk setiap kelompok industri. Karena itu, perusahaan perlu melihat aturan dan petunjuk teknis yang berlaku untuk produknya.

4.     Pastikan data konsisten

Data yang digunakan dalam perhitungan harus sesuai dengan dokumen dan kondisi produksi di lapangan. Ini menjadi salah satu bagian penting dalam proses verifikasi.

5.     Jangan berhenti mengikuti aturan lama

Regulasi dapat berubah. Perusahaan yang pernah melakukan sertifikasi TKDN sebelumnya tetap perlu mengecek ketentuan terbaru sebelum mengajukan kembali.

 


TKDN Bukan Sekadar Angka

TKDN sering kali dilihat sebagai angka yang harus dicapai agar sebuah produk memenuhi persyaratan tertentu. Padahal, proses di balik angka tersebut cukup banyak.

 

Perusahaan perlu mengetahui dari mana bahan berasal, bagaimana proses produksinya berjalan, berapa tenaga kerja yang digunakan, dan bagaimana biaya produksinya tercatat.

 

Artinya, persiapan TKDN sebenarnya juga berkaitan dengan kesiapan sistem dan administrasi perusahaan.

 


Kesimpulan

Perubahan kebijakan dan perkembangan industri membuat perusahaan manufaktur perlu lebih cermat dalam memahami TKDN. Bukan hanya soal sertifikat, tetapi juga bagaimana perusahaan menyiapkan data, dokumen, dan proses produksinya.

 

Dengan persiapan yang baik, proses sertifikasi dapat berjalan lebih terarah dan perusahaan pun lebih siap mengikuti perkembangan ketentuan industri di Indonesia.

 

TKDN bukan sekadar persentase. Di baliknya, ada proses bisnis yang perlu dipahami dan dipersiapkan dengan baik.